Gelaran Piala Dunia FIFA yang akan dimulai tuan rumah Qatar akhir pekan ini, diwarnai dengan berbagai kontroversi termasuk isu hak asasi manusia.
- PSSI Tegaskan Drawing Liga 4 Harus Diulang
- Indonesia Naik ke Ranking 123 FIFA, Posisi Terbaik dalam 15 Tahun Terakhir
- Tagar Erick Thohir Out Menggema
Baca Juga
Negara-negara Eropa banyak mengecam Qatar atas tuduhan diskriminasi dan tewasnya pekerja migran selama membangun infrastruktur Piala Dunia.
Paris dan beberapa kota lainnya di Prancis dilaporkan media lokal tidak akan menayangkan pertandingan Qatar di layar lebar seperti biasanya.
Mantan bintang sepakbola Prancis, Bleus Eric Cantona bahkan menyerukan pemboikotan pada Piala Dunia yang diselenggarakan di Qatar.
Menanggapi kontroversi tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan tegas menolak seruan boikot dan menyatakan jika itu sudah sangat terlambat untuk dilakukan.
"Saya tidak mendukung boikot Piala Dunia. Pertanyaan-pertanyaan ini harus diajukan lebih awal, sebelum Qatar ditetapkan jadi tuan rumah," ujarnya saat menghadiri pertemuan APEC di Bangkok pada Jumat (18/11).
Menurut Macron, Piala dunia harusnya tidak untuk dipolitisasi.
"Saya pikir kita tidak boleh mempolitisasi olahraga," tegasnya seperti dimuat The Khaleej Times.
Untuk membuktikan komitmennya, Macron akan pergi ke Qatar saat Timnas Prancis mencapai babak semifinal.
Kapten sepak bola Prancis, Hugo Lloris juga dia tidak akan mengenakan ban lengan anti-diskriminasi selama turnamen untuk menunjukkan rasa hormat kepada Qatar.
Prancis berhasil mempertahankan gelarnya saat menang 4-2 melawan Kroasia di babak final Piala Dunia FIFA Rusia pada 2018 lalu.
- Marc Marquez Menangi Sprint Race GP Qatar 2025
- PSSI Tegaskan Drawing Liga 4 Harus Diulang
- Garuda Muda Pastikan Lolos Piala Dunia U17 di Qatar