Dianggap rawan jika melakukan reshuffle menteri yang berasal dari Partai Nasdem menjelang berakhirnya kepemimpinan pada 2024, Presiden Joko Widodo diyakini lebih memilih mempertahankan anak buah Surya Paloh di kabinet, dibanding mengikuti hasrat PDI Perjuangan.
- Banyak Laporan Dugaan Korupsi Keluarga Jokowi Sudah Masuk KPK
- Setop Anggaran IKN, Prabowo Tunjukkan Taji ke Jokowi
- Jokowi Tak Bisa Kendalikan Pilpres 2029 Usai MK Hapus Presidential Threshold
Baca Juga
Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi mengatakan, isu reshuffle yang sebelumnya ramai, akan tetapi hingga saat ini tidak terjadi, dianggap merupakan hal yang wajar. Karena, reshuffle di detik-detik berakhirnya jabatan Jokowi sebagai presiden tidak efektif lagi.
"Karena usia pemerintahannya tinggal satu tahun lagi. Itupun kalau tidak kejadian luar biasa selama setahun terakhir usia kabinetnya. Dari lobi-lobi politik yang dilakukan Nasdem nampaknya Jokowi tidak berani membuang menteri-menteri dari Nasdem," ujar Muslim kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (22/2).
Jokowi kata Muslim, diyakini tidak berani membuang menteri-menteri asal Nasdem meskipun Jokowi belakangan mendapatkan tekanan dari partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri agar Nasdem dibuang dari kabinet.
"Safari politik yang dilakukan oleh Nasdem ke Golkar, PKS, Demokrat dan mau ke Gerindra akan menjadi kekuatan politik tertentu bagi Nasdem. Jokowi agar berpikir kalau buang Nasdem. Meski tekanan dari PDIP cukup kuat," pungkas Muslim.
- Surya Paloh Tegaskan Pengangkatan Pietra Machreza Sebagai Komisaris BTN Tanpa Usulan Nasdem
- Banyak Laporan Dugaan Korupsi Keluarga Jokowi Sudah Masuk KPK
- Setop Anggaran IKN, Prabowo Tunjukkan Taji ke Jokowi