Kelestarian biodiversitas atau keanekaragaman hayati di Taman Nasional Komodo terancam seiring peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun.
- 8arcode Resto and Beer House Gelar Event Khusus Mahasiswa
- SMB IV Kunjungi Halmahera Selatan, Hadiri Festival Marabose
- iForte Ajak Sineas Muda Palembang Berkompetisi Garap Film Pendek
Baca Juga
Selama ini, jumlah kunjungan wisatawan di Taman Nasional Komodo memang tidak ada pembatasan pengunjung.
Atas dasar itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Pemprov Nusa Tenggara Timur melaksanakan program penguatan fungsi sebagai perwujudan komitmen dan upaya menjaga keutuhan nilai jasa ekosistem Taman Nasional Komodo.
“Terkait urgensi dalam penguatan fungsi, Pulau Komodo, Pulau Padar, dan kawasan perairan sekitarnya tetap dibuka dengan pembatasan dan manajemen kunjungan tersistem sebagai upaya perlindungan, pengaturan, dan tata kelola kawasan Taman Nasional Komodo," kata Wakil Menteri LHK, Alue Dohong dalm keterangannya, Selasa (28/6).
Dengan begitu, Alue berharap masyarakat bisa beralih ke pariwisata berkelanjutan yang lebih sadar atas dampak aktivitasnya.
"Bahwa daya tarik wisata dan kelestarian konservasi dapat hidup berdampingan," sambungnya.
Senada dengan Wamen LHK, Wagub NTT, Josef Nae Soi menyebut ada empat agenda penguatan fungsi yang akan dilakukan Kementerian LHK bersama Pemprov NTT di Taman Nasional Komodo.
"Agenda tersebut adalah penguatan kelembagaan, perlindungan dan pengamanan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan wisata alam," tambah Josef Nae.
Di sisi lain, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang mengatakan, tren kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo terjadi peningkatan signifikan dalam sepuluh tahun terakhir akibat promosi intensif di media sosial.
Meskipun meningkatkan ekonomi, namun hal ini memberikan dampak terhadap perilaku Komodo. Komodo yang berada di area dengan aktivitas manusia tinggi/ekowisata secara signifikan, kata dia, menunjukan berkurangnya kewaspadaan dan cenderung adaptif dengan keberadaan manusia.
"Selain itu, Komodo yang berada di lokasi ekowisata cenderung memiliki bobot lebih besar, di mana hal ini bisa berdampak pada kerusakan ekosistem sekitarnya (kebutuhan pangan meningkat yaitu rusa)," demikian kata Lukita Awang.
Sesuai perhitungan dan rekomendasi dari hasil kajian, maka jumlah wisatawan dibatasi maksimal 200 ribu orang per tahun dengan sistem manajemen kunjungan yang terintegrasi berbasis reservasi online mulai 1 Agustus 2022.
- Kunjungi Pulau Kemaro, PMN Sumsel Ajak Kaum Muda Promosikan Wisata Lokal
- Tarik Wisatawan Asing, Italia Hapus Kewajiban Sertifikat Covid-19
- Festival Kapal Hias Bangkitkan Pariwisata Desa Sungsang