Bendungan Rusak, Ratusan Hektar Sawah Berubah Jadi Savana Tandus

Terlihat sawah yang seharusnya saat ini di tumbuhi Padi, namun kini terlihat seperti Padang Savana. (ist/rmolsumsel.id)
Terlihat sawah yang seharusnya saat ini di tumbuhi Padi, namun kini terlihat seperti Padang Savana. (ist/rmolsumsel.id)

Ambruknya Bendungan Air Nelengau di Desa Ganjuh, Kecamatan Pino, Bengkulu Selatan (BS) berdampak terhadap lahan pertanian warga.


Ratusan hektar sawah masyarakat mengalami kerusakan akibat kekurangan air. Sawah yang tadinya hijau berubah menjadi padang savana tandus tiada air.

"Sawah di daerah itu lebih kurang 600 hektar, namun saat ini banyak sawah yang tidak bisa digarap karena bendungan sumber air rusak sejak setahun terakhir," sampai Camat Pino Surahman kepada RMOLBengkulu, Rabu (5/1).

Menurutnya, masyarakat di daerah itu enggan untuk beralih fungsi, seperti menanam jagung dan sebagainya. Sebab, masyarakat lebih cocok dengan menanam Padi. Apalagi sawah di daerah itu merupakan penghasil Padi terbesar di Kecamatan Pino.

"Masyarakat bilang didaerah tersebut lebih menjanjikan hasil Padi, untuk itu kita berharap kepada pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memperbaiki bendungan ini," ujar Surahman

Sementara itu, mengingat banyaknya sawah yang terbengkalai dirinya berharap apa yang menjadi harapan masyarakat dapat segera ditanggapi. Terlebih lagi saat ini, banyak masyarakat terdampak akibat Covid-19 yang membuat sebagai besar masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

"Yang pasti kita tidak berharap perbaikan yang permanen, kita hanya minta agar air bisa kembali mengalir ke irigasi sawah," tutupnya

Sebelumnya diketahui, Pemkab BS sejak tahun 2018 lalu terus berupaya menanggulangi permasalahan bendungan sungai Air Nelengau yang menjadi sumber pengairan sawah Ganjuh tersebut. Bahkan Bupati BS Gusnan Mulyadi lansung turun lapangan memantau perbaikan. Namun, permasalahan ini lagi-lagi kembali timbul yang membuat masyarakat tidak bisa menggarap sawah-sawah di daerah itu sejak satu tahun terakhir.