Islamophobia yang berkembang di Eropa muncul setidaknya dari kesalahan pemahaman mengenai Islam. Hal tersebut diperparah dengan adanya dorongan dari masyarakat, pemerintah, hingga media.

Dutabesar RI untuk Jerman Arief Oegroseno menjelaskan, Eropa kerap menyamakan Islam dengan Arab yang tidak demokratis dan radikalisme.

“Padahal kalau kita lihat secara mendalam, nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, nasionalitas, itu ada dalam Islam,” ujarnya dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Islam dan Islamophobia di Eropa” pada Jumat malam (11/9/2020).

Sehingga, Roma menganggap kedatangan Islam sebagai invasi bangsa Arab. Hal ini juga dikaitkan dengan persepsi ancaman terorisme. Pemahaman-pemahaman tersebut lalu didorong menjadi gelombang Islamophobia oleh tiga aspek, meliputi peole driven (masyarakat), government driven (pemerintah), dan media driven.

Di masyarakat, muncul kalimat-kalimat diskriminatif terkait Islam yang terus digiring oleh sejumlah kelompok. Sementara itu, dalam tataran pemerintah, muncul juga peraturan, baik disengaja atau tidak disengaja, yang mendiskriminasi Islam, mulai dari edukasi, pekerjaan, sistem keadilan, hingga politik.

“Di Eropa jangan salah. Media berperan dalam menciptakan Islamophobia. Apakah itu media mainstream atau media-media yang kurang boming,” lanjutnya.

Kondisi tersebut, Arief katakan, sebagai tantangan yang luar biasa bagi umat muslim.

“Jadi ini menjadi satu cycle yang sangat challenging. Strukturnya sangat dalam dan sangat luas,” paparnya.

Kontribusi Dalam hal mengatasi fenomena Islamophobia, Arief mengatakan, Indonesia, khususnya PP Muhammadiyah dapat berperan aktif untuk mengubah pemahaman Eropa. Di mana Islam tidak identik dengan Timur Tengah. Bahkan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, yaitu Indonesia, berisi mayoritas Islam.

“Islam juga hidup di negara yang menghargai wanita. Ini yang banyak tidak diketahui di Eropa,” sambungnya.

Salah satu kontribusi tersebut, ia katakan, dapat dilakukan dengan membuka perwakilan PP Muhammadiyah di Eropa.

Nantinya, PP Muhammadiyah juga dapat menjadi kontributor dalam penyusunan kurikulum di berbagai tempat di Eropa.

“Tapi yang penting menurut saya, how to reach mereka yang anti-Islam,” ucapnya.

Arief menjelaskan, alih-alih saling menyerang antar Islam, umat muslim perlu mengajak mereka yang memiliki pandangan negatif terkait islam.

Eropa Harus Lebih Keras Terhadap Pemerintahan Erdogan “Kita di KBRI bekerja sama dengan satu unit di Kementerian Luar Negeri Jerman. Unit ini mempromosikan inter-religious diplomacy,” tandasnya.[ida]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here