Viral foto-foto dan video pembakaran spanduk Habib Rizieq Shihab (HRS) oleh massa pengunjukrasa peristiwa Kudatuli, Selasa (27/7/2020). Front Pembela Islam (FPI) bereaksi keras atas masalah ini.

Namun politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera curiga ada upaya mengadu domba antara partainya dengan FPi, menggunakan cara-cara membakar foto atau poster HRS tersebut.

Kecurigaan Kapitra didasari konteks aksi demonstrasi yang dilakukan Gerakan Jaga Indonesia (GJI) untuk mengenang peristiwa pembakaran Kantor PDI 27 Juli 1996, justru tiba-tiba berubah jadi aksi pembakaran foto Imam Besar FPI itu.

“Apa muatannya ini? Apakah ada maksud mengadu domba antara kelompok Islam yang di bawah pimpinan Habib Rizieq dengan PDIP, atau memang ada unsur lain? Ini perlu diselidiki oleh kepolisian,” ucap Kapitra saat berbincang dengan jpnn.com, Kamis (30/7).

Dia mengingatkan masalah politik jangan diarahkan ke masalah personal ulama sekelas Habib Rizieq Shihab. Sebab, tindakan saat aksi unjuk rasa itu jelas sebagai pencemaran nama baik dan bisa kena delik pidana.

“Ini masalah politik jangan dibawa ke masalah personal. Itu jelas pencemaran nama baik dan bisa dihukum seharusnya. Jadi saya minta juga kawan-kawan yang dirugikan, lapor polisi. Polisi harus adil dalam menyikapi ini,” pinta mantan pengacara HRS ini.

Sama halnya dengan pembakaran PDIP beberapa waktu lalu, kata Kapitra, juga harus diselidiki oleh kepolisian. Sebab, pihak PA 212, FPI, GNPF Ulama dan ormas lainnya yang melakukan aksi menolak RUU HIP saat itu membantah ada agenda pembakaran.

“Ada pun pembakaran bendera PDIP, kan harus diselidiki siapa yang membakar, karena di kelompok itu membantah membakar. Ini tugas kepolisian menyelidiki,” ujar pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini.

Lebih jauh, Kapitra menegaskan bahwa Boedi Djarot yang merupakan salah satu tokoh GJI, tidak ada kaitannya dengan PDIP.

Dia justru melihat aksi pembakaran foto HRA oleh mereka sebagai upaya untuk membenturkan

“Apa kaitannya ini Boedi Djarot dengan PDIP. Saya melihat seolah-olah ada kesan untuk membenturkan PDIP dengan FPI atau kelompok Habib Rizieq. Itu tidak baik. Itu membuat politik justru memanas. Ini membuat kegaduhan baru. Harusnya di masa pandemi ini tidak begitu,” tutur Kapitra.

Pihaknya juga menegaskan bahwa seorang Habib Rizieq Shihab tidak ada hubungan apa pun dengan peristiwa Kudatuli yang menjadi sejarah kelam bagi PDIP dan demokrasi di Indonesia.

“Kenapa tiba-tiba muncul penyesatan begitu ya, opini, terkesan Kudatuli itu ada peran Habib Rizieq tuh. Apa urusan Habib Rizieq dengan Peristiwa 27 Juli 1996? Tapi kok posternya yang dibakar, diinjak-injak,” tegas politikus berusia 54 tahun ini. [ida]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here