Kejaksaan Negeri (Kejari) Palembang bersama dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) akan melakukan pelelangan barang sitaan hasil kejahatan dengan terpidana M Hatta Ansori, yang telah dijatuhi vonis 3,6 tahun penjara. Yang dilelang berupa satu unit supercar jenis Ferarri, pada Kamis (16/7/2020).

Informasinya, Ferarri berkelir abu-abu metalik tersebut akan dilelang oleh KPKNL Palembang, dengan nilai minimal Rp10,2 miliar.

Ditemui di kantornya saat gelar barang sitaan sebagai barang bukti untuk dilelang, Kepala Kejari Palembang Asmadi mengatakan, satu unit Ferarri tersebut merupakan barang rampasan negara, yang berasal dari barang bukti tindak pidana penyelundupan.

“Jadi, barang bukti ini dirampas untuk negara, barang ini sah milik negara,” kata Asmadi kepada wartawan, Selasa (14/7/2020).

Perwakilan Kejagung RI dari Pusat Pemeliharaan Aset Asep juga mengatakan, akan melakukan lelang barang rampasan untuk dilelangkan yang menurutnya, tindakan hukum tidak hanya terhadap pidana badan, namun eksekusi terhadap barang rampasan sebagai barang bukti yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dilakukan.

Sementara itu, Kepala KPKNL Ridho Wahyono menjelaskan, jika untuk prosedur lelangnya yakni calon peserta diwajibkan membuka situs lelang KPKNL terlebih dahulu, serta wajib juga membayar uang jaminan lelang sebesar Rp5 miliar, sementara untuk limit lelangnya mencapai Rp10,2 miliar lebih.

“Yang mau ikut juga wajib melalui situs resmi kita, dan pemenangnya akan dikenakan biaya lelang, 3 persen dari harga terbentuk, bukan harga limit,” jelasnya.

Untuk diketahui, terpidana M Hatta Ansori merupakan, salah satu staf perusahaan importir PT BBN (Bintika Bangun Nusa) Palembang, yang divonis bersalah karena telah memberikan laporan jenis/barang impor dalam pemberitahuan, yang salah yang terdapat dalam dua kontainer yang berisikan puluhan ribu botol minuman keras (miras), serta satu unit mobil mewah jenis Ferarri sehingga, mengakibatkan kerugian negara senilai lebih dari Rp25,7 milliar.

Setibanya di perairan PT Pusri, kapal tersebut dilakukan pemeriksaan sarana pengangkut laut (boetzoeking) oleh petugas Bea dan Cukai Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Bagian Timur, dan dari hasil boetzoeking tersebut diketahui jumlah barang impor yang tercantum dalam dokumen yang menunjukkan posisi kontainer dan fisik muatan kapal sebanyak 109 tidak sesuai, ada dua kontainer yang tidak dilaporkan yakni berisi 1 unit super car jenis Ferarri, 8.400 botol miras berbagai merk serta ribuan mainan anak.

Atas perbuatannya tersebut pada Rabu (13/11/2019), majelis hakim PN Palembang Kelas IA Khusus yang diketuai hakim Erma Suharti menyatakan, M Hatta Ansori telah terbukti secara sah melakukan perbuatan melawan hukum melanggar Undang Undang (UU) Kepabeanan, Pasal 102 huruf h tahun 2006, untuk itu majelis hakim memutuskan menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 3,6 tahun, denda Rp1 miliar, subsider 3 bulan kurungan.[ida]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here