Komandan Korem (Danrem) 044/Gapo Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji saat akan melaksanakan patroli udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumsel, beberapa waktu lalu / rmolsumsel
Komandan Korem (Danrem) 044/Gapo Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji saat akan melaksanakan patroli udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumsel, beberapa waktu lalu / rmolsumsel

. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tak dapat dipungkiri, menjadi ancaman tersendiri bagi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) saat musim kemarau tiba. Ketika karhutla kian besar, bencana asap pun datang sebagai imbasnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, TNI dibawah komando Danrem 044/Gapo telah menurunkan sedikitnya 1.000 personel di sejumlah desa di wilayah Sumsel yang dinilai sebagai titik rawan karhutla di Sumsel.

Komandan Korem (Danrem) 044/Gapo, Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji menyatakan, sejumlah personel TNI dari Korem 044/Gapo tersebut diterjunkan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla di daerah-daerah rawan tersebut.

“Sebagai bagian dari Satgas Karhutla Provinsi Sumsel, TNI menurunkan sedikitnya 1.000 prajurit guna melakukan pencegahan dan penanggulangan di titik rawan karhutla,” kata Jauhari Agus Suraji kepada wartawan, Rabu (1/7/2020).

Ditambahkan Jauhari, saat ini pihaknya lebih menekankan pada upaya pencegahan dan pemadaman sedini mungkin saat titik panas (hotspot) baru muncul. Terutama, sambung Danrem, di kawasan lahan gambut.

Caranya dengan mengandalkan sistem yang terintegrasi lintas lembaga, sehingga personel yang bersiaga di desa-desa rawan karhutla dapat langsung dikerahkan untuk bertindak ketika karhutla terjadi.

“Untuk melakukan pemantauan titik panas tahun ini, Satgas Karhutla Provinsi Sumsel mengandalkan lima satelit pemantau,” sebut Danrem.
Diakuinya pula, sepanjang Januari-Juni tahun ini terpantau ada 1.868 titik panas yang muncul di Sumsel, yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Kerawanan karhutla di Sumsel akan semakin meningkat terutama menjelang puncak musim lemarau di Sumsel, yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September tahun ini,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here