Proses perkuliahan selama Pandemi Covid-19 dilakukan secara dalam jaring (daring) atau online. Pasalnya, perkuliahan secara daring yang dilakukan terus-menerus akan menimbulkan ketidakefektifan, baik dosen dan mahasiswa.

Hal tersebut dikarenakan, keterbatasan soft skill dosen yang belum bisa mengoperasikan aplikasi tersebut dengan baik dan mahasiswa juga seperti itu.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Prof H Sirozi mengatakan, selama 4 tahun terakhir website aplikasi e-learning di UIN RF sudah ada. Namun, selama ini tidak diwajibkan perkuliahan melalui daring, karena dosen dan mahasiswa belum terlalu serius untuk memikirkan pelaksanaan e- learning itu.

“Memang sekarang ini perkuliahan dalam jaringan (daring) sangat dianjurkan, akan tetapi tidak boleh lebih dari 30 persen dan itu sudah ketentuan aturan yang ada. Melalui pusat data dan informasi membuat panduan-panduan secara teksnis, lalu disosialisasikan terus dengan harapan dosen dan mahasiswa bisa belajar,” ujar Sirozi, Selasa (16/6).

Ia juga mengatakan, masih banyak aplikasi yang digunakan beragam seperti, aplikasi e-learning yang resmi, google mix, zoom dan ada yang memakai WhatsApp, karena perkuliahan ini harus jalan, tergantung dari kesepakatan antara dosen dan mahasiswa.

“Kami memaklumi jika mahasiswa mengeluh karena perkuliahan secara daring ini belum sempurna, bagaimana caranya mahasiswa harus mengikuti perkuliahan dengan dosen. Apabila mahasiswa tidak ikut pembelajaran melalui daring maka di semester depan mata perkuliahan tidak diulangi lagi,” jelasnya.

Diakui Sirozi, kendala berikutnya yaitu masalah gangguan jaringan internet. Mengingat 70 persen mahasiswanya berasal dari daerah.

“Ya kendalanya masalah internet ya, apalagi untuk mahasiswa yang tinggal di daerah pedalaman, untuk mengirim tugas kuliah mereka harus mencari sinyal dulu,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa UIN RF Palembang, Sultoni Ajib menuturkan, sejauh ini belajar e-learning ini tidak selektif.

Menurutnya, selama belajar e-learning banyak dosen yang kurang merespon (slow respon, red).

“Selama belajar jarak jauh, saya pribadi kurang mendapat ilmu karena kurangnya tatap muka. Dan juga kami berharap di masa Covid-19 ini, kami meminta pihak UIN Raden Fatah dapat memberikan keringan lagi kepada kami mengenai biaya UKT, sebab kami bukan hanya memikirkan biaya kuliah saja tetapi kami juga harus membeli kuota untuk pembelajaran e-learning,” tutupnya.[ida]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here