Tidak Panglima Serdadu Eks Trimata Nusantara Ruslan Buton telah mengakui bahwa rekaman suara, yang meminta Presiden Jokowi mundur adalah miliknya.

“Hasil pemeriksaan tersangka mengakui bahwa benar suara rekaman yang beredar adalah milik tersangka, yang dibuat pada tanggal 18 Mei 2020,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan dalam jumpa pers virtual, di Bareskrim Polri, Jumat (29/5/2020).

Usai merekam, kata Ahmad Ramadhan, Ruslan Buton yang telah ditetapkan sebagai tersangka kemudian mendistribusikan atau menyebarkan rekaman tersebut ke WhatsApp Grup (WAG) Serdadu Eks Trimatra.

Untuk saat ini, eks Anggota TNI AD itu telah berada di Jakarta dan tengah diperiksa oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

“(Sedang) pendalaman tentang peran RB akan dilanjutkan oleh penyidik Bareskrim Polri pasca RB tiba di Jakarta,” pungkas Ahmad Ramadhan.

Ruslan Buton dapat dijerat dengan pasal 14 ayat 1 dan 2 dan atau pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapis dengan Pasal 28 ayat 2 UU 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana 6 tahun dan atau Pasal 207 KUHP, dapat dipidana dengan ancaman penjara 2 tahun.

Ruslan Buton ditangkap setelah membuat pernyataan terbuka kepada Presiden Joko Widodo dalam bentuk rekaman suara pada 18 Mei 2020 dan kemudian rekaman suara itu menjadi viral di media sosial.

Di rekaman tersebut, Ruslan Buton mengkritisi kepemimpinan Presiden Jokowi. Menurutnya, solusi terbaik untuk menyelamatkan Bangsa Indonesia adalah bila Jokowi rela mundur dari jabatannya sebagai kepala negara.

“Namun bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” tutur Ruslan Buton.[ida]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here