Oleh: Dr Muhammad Najib

BILA disebut nama Lawrence of Arabia, maka terbayang di pikiran kita, seorang dengan wajah bule, mata biru, mengenakan kafiyeh, dengan gagah dan bersemangat menunggang unta di tengah padang pasir yang luas dan terik.

Gambaran seperti ini mendominasi pikiran kita, karena perannya yang luar biasa dalam menggalang dan mengonsolidasi Bangsa Arab melawan Kesulthanan Turki, sehingga ia dianggap sebagai pahlawan oleh Sekutu, khususnya bagi Bangsa Inggris dalam kemenangannya di Perang Dunia Pertama.

Sosok bule berpakaian Arab menunggang unta semakin kukuh, ketika kisahnya diangkat ke layar lebar pada 1962 oleh sutradara David Lean dan diproduksi oleh Sam Spiegel yang sukses besar, ditandai dengan penghargaan tujuh Piala Oscar, dan dinobatkan sebagai film epik terbesar sepanjang masa.

“Lawrence of Arabia” sebenarnya hanya julukan, yang kemudian diperkuat oleh judul filmnya: Lawrence of Arabia, The Battle for Arab. Nama sebenarnya adalah Thomas Edward Lawrence yang sering disingkat menjadi T.E.Lawrence dan kerap dipanggil Thom nama pendek sekaligus nama kecilnya.

Lawrence lulusan dari Jesus Collegge yang bernaung di bawah Universitas Oxford di Inggris pada 1910. Tesisnya berjudul: The Influence of the Crusades on European Military Architecture to the End of the 12th Century. Hal ini menunjukkan minatnya yang sangat besar pada sejarah, khususnya pada peristiwa Perang Salib.

Untuk menyelesaikan tugas akhirnya, ia secara khusus mengunjungi tempat-tempat bersejarah terkait Perang Salib di sekitar Lebanon dan Suriah. Setelah lulus Lawrence mengawali karirnya sebagai seorang arkeolog yang bekerja di British Museum, kemudian ditugasi untuk melakukan penelitian di sejumlah wilayah Arab, seperti Palestina, Suriah, Irak, dan Mesir.

Pengalaman ini membuat dirinya semakin menguasai medan padang pasir, akrab dengan budaya Arab khususnya suku-suku Badui yang tinggal di padang pasir, dan membuat Bahasa Arabnya semakin terasah.

Tahun 1914, menjelang meletusnya Perang Dunia Pertama, ia direkrut oleh militer Inggris dengan pangkat Kolonel. Kemudian sebagai intel dirinya ditugaskan untuk melakukan observasi di Gurun Negev (kini masuk wilayah Palestina/Israel) yang menjadi jalur utama tentara Turki untuk berbagai keperluan dengan cover penelitian arkeologi.

Selanjutnya ia ditempatkan di pos Mesir yang waktu itu menjadi bagian dari koloni Inggris. Pejabat militer Inggris di Mesir kemudian menugaskannya untuk menemui Sharif Hussein bin Ali al Hasyimi sebagai sebagai Gubernur Hijaz yang berkedudukan di Makkah, untuk menyampaikan janji Inggris, jika beliau besedia membantu Sekutu melawan Turki, dan jika menang maka wilayah Hijaz, Irak, dan Syria (termasuk Lebanon), akan diserahkan kepadanya.

Sebenarnya tawaran dan janji yang sama juga diberikan Inggris kepada Abdul Aziz sebagai keturunan Ibnu Saud yang berkuasa di Najd yang bertetangga dengan Hijaz. Abdul Aziz secara tegas menolak, sementara Syarif Husain memberi lampu hijau.

Bagi Inggris mendekati penguasa Hijaz dan Najd sangat penting, karena di sinilah letak jantung Ummat Islam. Apalagi Sulthan Turki menggunakan seruan Jihad untuk melawan para penjajah yang berbeda agama.

Pertemuan dengan sang penguasa Makkah dan Madinah ini dimanfaatkan Lawrence untuk mendekati keluarganya, khususnya anak-anak Hussein yang laki-laki seperti : Ali, Faisal dan Abdullah. Ia kemudian sangat akrab dengan Faisal yang dinilainya paling cakap. Pada saat bersamaan Inggris dan Prancis membuat perjanjian yang kemudian dikenal dengan Sykes-Picot Agreement (1916), yang isinya membagi wilayah Arab kepada dua negara setelah menang. Perjanjian ini kemudian mendapatkan persetujuan Rusia sebagai negara yang tergabung dengan Sekutu.

Kemudian atas bantuan Faisal, Lawrence melakukan kerja lapangan menyusuri padang pasir dengan mengendarai unta untuk menemui suku-suku Badui yang hidup di tengah gurun terpisah-pisah. Dengan modal kemampuan berbahasa Arab, Lawrence berdialog dengan kepala-kepala suku, di tenda-tenda mereka, sambil menikmati makanan dan minuman khas mereka. Lawrence juga sering bermalam di tenda-tenda mereka.

Bagi suku-suku Badui menghormati dan menjamu tamu adalah sebuah tradisi yang berhubungan dengan harga diri dan kehormatan. Sementara bagi Lawrence, apa yang dilakukannya diyakini menjadi cara yang paling efektif untuk menggali informasi. Dengan cara ini Lawrence mengetahui apa yang mereka suka, dan apa yang mereka tidak suka dari penguasa Turki. Lebih dari itu, walaupun mereka merasa sesama Muslim, akan tetapi perbedaan suku (Arab dan Turki) tetap menjadi ganjalan di benak kebanyakan kepala suku yang ditemuinya.

Dari sinilah Lawrence mendapatkan ide, bagaimana memanfaatkan Bangsa Arab untuk melemahkan kekuatan Turki di dunia Islam. Dengan menjanjikan kebebasan dan kemerdekaan, kemudian memprovokasi Bangsa Arab untuk mendirikan negara sendiri, Lawrence terus bekerja untuk menyatukan suku-suku Badui yang satu dengan lainnya sering bertikai.

Selanjutnya Lawrence menyuplai senjata, uang, dan, rokok, kemudian melatih bagaimana mereka menggunakan senjata api, dinamit, dan taktik sabotase dan penyergapan melalui strategi perang gerilya di padang pasir yang sangat luas. Ironi yang terjadi, saat pertempuran suku-suku Arab yang didampingi pasukan Inggris meneriakkan takbir: “Allahu Akbar”, sementara pasukan Turki yang dilawannya meneriakkan takbir yang sama.

Lawrence terlibat langsung dalam berbagai pertempuran seperti: sabotase keretapi jalur Damaskus-Madinah, penyerbuan Aqaba, pengepungan Madinah, dan pengambialihan Damaskus. Semua ini membuat rontoknya moral pasukan Turki dan lemahnya pertahanannya, kemudian membuka jalan bagi tentara Sekutu untuk menguasai Palestina, yang diikuti oleh ditariknya semua pasukan Turki dari wilayah Arab pada 1918.

Syarif Hussein kemudian hanya mendapatkan Hijaz, di mana dirinya kemudian diangkat sebagai Raja. Sedangkan Abdullah dijadikan Raja di Trans-Yordania dan Faisal dijadikan Raja di Irak dan Suriah. Akan tetapi dua putra Hussein hanya menjadi boneka kolonial karena wilayah yang diberikannya sudah dibagi antara Inggris dan Prancis sesuai Perjanjian Sykes-Picot. Sementara Palestina dijadikan protektorat Inggris yang dipersiapkan untuk orang Yahudi sesuai Perjanjian Balfour. Sementara seluruh wilayah Arab lain di kawasan Teluk tetap menjadi bagian dari koloni Inggris.

Demikianlah sepenggal kisah drama politik, di manapun dan sampai kapanpun politik adalah politik, di mana setiap kelompok sibuk dengan kepentingannya sendiri. Akibatnya seringkali janji tinggal janji, karena manusia bisa berubah pikiran setiap saat, bahkan tidak jarang sejak awal perjanjian dibuat sudah ada niat untuk tidak menepatinya. Pelajaran berharga bagi para pemimpin, khususnya bagi para politisi. Wallahua’lam. [Dr Muhammad Najib]

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here